Jumat, 04 Mei 2012

KRITIK MARX TERHADAP KAPITALISME


 Filsuf  hanya menaFsirkan dunia, tetapi tujuan sesungguhnya adalah mengubah dunia
(Marx)


                Setelah kapitalisme Adam Smith dikritik (dan dibangun) oleh Ricardo, Malthus, dan Mill, muncul lagi pengkritik yang lebih serius, yakni  Karl Marx.
                Siapa Marx?
Dia adalah filsuf Jerman yang menuliskan kritik mendasar terhadap Kapitalisme. Jika Ricardo dan Maltus menaburkan benih keraguan terhadap pemikiran Smith, Marx (1818-1883) menghancurkan ikatan kapitalisme dan mengoyak-ngoyak dasar-dasar system kebebasan natural Adam Smith. Sistem komersial kapitalis yang semula dilihat sebagai system yang “tak bersalah” (Montesque), “saling menguntungkan” (Smith), atay “harmonis secara alamiah” (Say dan Bastiat), di bawah pemikiran Marz, system itu dilihat sebagai system yang asing, menindas, dan akan hancur sendiri.
Seorang Marxis, John E Roemer, menyatakan perbedaan utama antara Smith dan Marx dalam pernyataan berikut ini:
“Smith mengatakan bahwa usaha mengejar kepentingan diri yang dilakukan individu akan menguntungkan semua orang, sedangkan Marx mengatakan bahwa mengejar kepentingan diri akan mengakibatkan anarki, krisis, dan hancurnya system berbasis hak milik itu sendiri… Smith berbicara tentang “tangan gaib” yang membimbing agen kepentingan diri individual untuk melakukan tindakan yang akan oprimal secara sosial, meskipun mereka sendiri tidak begitu peduli pada akibat dari tindakan itu; sedangkan Marx berbicara mengenai “tangan besi kompetisi” yang menghencurkan buruh dan membuat keadaan mereka bertambah buruk ketimbang jika mereka berada di dalam system lainnya, yakni system yang didasarkan pada hak milik sosial” (Roemer, 1988: 2-3).
Siapa filsuf Jerman ini?
Karl Heinrich Marx lahir pada 5 Mei 1818 di kota Trier, Provinsi Rhine, Prussia. Trier adalah kota tertua di Jerman.
Sejak buaian sampai liang lahat, hidup Marx penuh kontradiksi.
Dia menentang borjuis picik, tetapi dia dibesarkan dalam keluarga borjuis. Dia menjalani kehidupan dewasanya dalam kemiskinan selama bertahun-tahun, tetapi dia dilahirkan dalam keluarga yang cukup kaya. Dia memuji teknologi kaptalisme dan kemajuan material, tetapi dia mengutuk masyarakat kapitalis. Dia sangat bersimpati pada  pekerja, tetapi dia sendiri tak pernah punya kerja tetap atau mengunjungi pabrik selama kehidupan dewasanya. Sampai-sampai ibunya mengeluh, “mudah-mudahan Marx bisa menghasilkan capital daripada sekadar menulis tentang capital” (Padover, 1978: 344)
                Marx bersifat anti-smith tetapi dia sebenarnya keturunan Yahudi dari kedua belah pihak keluarganya. Dia menyukai anak-anaknya tetapi dia juga menyaksikan anak-anaknya mati premature karena kurang gizi dan sakit atau karena terpaksa bunuh diri. Marx melancarkan protes terhadap  kejahatan eksploitas dalam system kapitalis, namun (menurut penulis biografinya)”dia mengeksploitasi semua orang di sekelilingnya –istrinya, anaknya, pelayannya, dan kawan-kawannya—dengan kasar dan ini sangat mengerikan karena dilakukan dengan sengaja dan penuh perhitungan. (Payne, 1968: 12).
                Ringkasnya Marx menjelaskan tentang kontradiksi internal dalam system kapitalisme, tetapi dia sendiri juga penuh kontradiksi di dalam dirinya.

Memahami Dialektika Marx
Dalam Capital yang dIpublikasikan pada 1867, Karl Marx memperkenalkan model alternatif untuk ekonomi klasik Adam Smith. Sistem ini dimaksudkan untuk menunjukkan secara “ilmiah” bahwa system kapitalisme mengandung cacat fatal, yakni hanya menguntungkan pemilik modal (kapitalis) dan bisnis besar dengan mengeksploitasi buruh, dan kapitalisme akan mengalami krisis yang pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri.
Mari kita pelajari apa maunya Karl Marx
Marx sangat dipengaruhi oleh George Wilhelm Hegel (1770-1831) dalam mengembangkan proses dterminisme ekonominya. Tesis dasar Hegel adalah “kontradiksi (di alam) adalah akar dari semua gerak dan kehidupan”. Hegel mendeskripsikan kontradiksi ini  dalam istilah dialektika, kekuatan yang saling bertentangan yang pada akhirnya melahirkan kekuatan baru. “Tesis” yang mapan akan menimbulkan “antithesis” sebagai lawannya, yang pada gilirannya akan menciptakan “sintesis” baru. Sintesis baru ini menjadi “tesis” da prosesnya akan dimulai lagi dari awal di sepenjang perjalanan peradaban. 

Marx kemudian menerapkan model dialektika ini untuk pandangannya tentang sejarah yang bersifat deterministik.



Menurut teori ini, perbudakan dilihat sebagai alat utama dari produksi atau tesis pada zaman Yunai Romawi kuno. Feodalisme menjadi antithesis utama di abad pertengahan. Sintesisnya menjadi kapitalisme yang akan menjadi tesis baru setelah pencerahan. Tetapi kapitalisme menghadapi antitesisnya sendiri –ancaman dari sosialisme. PAda akhirnya, pertentangan ini akan menghasilkan system produksi tertinggi, yakni komunisme.
Pada titik ini Marx adalah seorang optimis, dia sangat percaya bahwa semua sejarah akan mengarah ke bentuk masyarakat yang lebih tinggi, yang berpuncak pada komunisme.
                Mari kita lihat apa yang dituliskan Marx pada buku Manifesto Komunis. Marx menyatakan bahwa kapitalisme merupakan sintesis dari era perbudakan dan feodalisme, sebagai sintesis kapitalisme tentu memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan tesis dan antitesisnya. Marx menuliskan beberapa perbandingan antara tesis-antitesis dan sinetsisnya:
-          Di bawah kapitalisme, kekuasaan bebas setiap pribadi atas hak milik bisa berkembang, berbeda dengan pada saat feodalisme yang hanya member kebebasan memiliki pada kaum ningrat
-          Pekerjaan, mesti sikapnya upahan, menjadi bebas (tanpa kerja paksa), seperti diberlakukan pada zaman sebelumnya
-          Di zaman feudal, produksi hanya demi konsumsi (misalnya asal rakyat sudah member upeti cukup buat kaum ningrat maka tak ada gunanya lagi berproduksi), di bawah kapitalisme, produksi barang dagangan mencapai kemajuan besar dan bersifat universal, karena produksi diadakan demi pasaran dan dengan tujuan mencapai untung.
Namun setiap tesis memiliki kelemahan yang mengundang lahirnya antithesis baru, demikian pun ketika kapitalisme sebagai sintesis menjelma menjadi tesis. Kapitalisme memiliki beberapa kelamahan yang “mengundang” lahirnya tesis baru, yaitu sosialisme yang kemudian “digiring” Marx dalam melahirkan “komunisme”. Apakah kelamahan kapitalisme:
-          Lapisan tengah yang tidak memiliki modal seperti kaum tani dan borjuasi kecil makin lama makin menghilang, dan masyarakat akhirnya  terbagi menjadi dua kutub: (1) kaum kapitalis (pemilik modal) dan (2) kaum proletariat.
-          Karena persaingan antar kaum kapitalis, masing-masing kapiralis berjuang mati-matian untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin. Salah satu cara mendapatkan keuntungan adalah dengan menghisap kerja dari kaum buruh.
-          Situasi ini membuat kaum proletariat semakin menyadari nasibnya, dank arena ada banyak kaum proletariat maka mereka bersatu untuk melakukan revolusi terhadap kaum kapitalis. Dengan revolusinya, kaum proletariat mencopot hak milik kaum kapitalis  atas alat produksi dan menyerahkannya kepada seluruh masyarakat. Mereka merebut kekuasaan dan menciptakan diktatur proletariat. Inilah tahap Antitesis.
-          Namun ini tahap sementara, sejauh masih ada kekhawatiran terhadap bahaya sisa-sisa kapitalisme. Kalau bahaya itu sudah hilang, diktatur proletariat akan hilang dengan sendirinya. Dalam keadaan demikian mereka akan menciptakan system yang meniadakan system kapitalisme dengan menghapus system kelas. Inilah Sintesa yang melahirkan komunimse.

Memahami Keuntungan Kapitalis
Hakekat ekonomi kapitalisme, menurut Marx, adalah memburu profit sebanyak-banyaknya.
Profit itu tentu tidak diperoleh karena pertukaran yang manusiawi. Dalam pertukaran manusiawi, si A dan si B saling memberikan apa yang dibutuhkan keduanya, tapi dalam nilai yang sama, Di sini tidak terjadi profit, karena si An menerima sesuatu yang bernilai sama dengan apa yang diberikannya kepada si B, demikian pun sebaliknya. Sementara dalam kapitalisme, pihak pemilik modal selalu menerima lebih banyak dari apa yang dimilikinya semula. Pihak kapitalis menerima profit dalam proses tukar-menukarnya.
Darimana mereka memperoleh keuntungan itu?
Pada titik ini Marx mengajukan teori tentang nilai lebih
Nilai lebih adalah nilai yang diberikan secara terpaksa oleh buruh melampaui apa yang defacto ia butuhkan. Misalnya seperti ini:
-          Seorang buruh membutuhkan uang Rp. 1000 dalam sehari hidupnya dan keluarganya menurut standar sosial normal di kotanya
-          Ia menawarkan (sebenarnya menjual) tenaganya di pasaran. Seorang kapitalis yang membutuhkannya, menggunakannya ( sebenarnya membeli) buruh tersebut dengan upah (atau harga) Rp. 10000,- per hari.
-          Di pabrik sang kapitalis, si buruh harus bekerja 8 jam untuk uang Rp. 1000,- yang diterimanya itu. Walaupun setelah bekerja 4 jam, buruh itu sebenarnya sudah menghasilkan pekerjaan yang harganya Rp. 1000. Jadi bila diukur dari proses pertukaran normal. Uang yang diterima buruh dalam sehari (yakni Rp. 1000) sudah terbayar lunas dengan bekerja 4 jam saja. Dengan kata lain, waktu kerja yang dibutuhkan (necessary labour time) untuk uang Rp. 1000,- itu sebenarnya hanya 4 jam.
-          Tapi karena buruh sudah menjual tenaganya maka ia harus bekerja sesuai dengan ketentuan. Ia terpaksa bekerja 4 jam lagi. Dari 4 jam  kerja buruh (surplus labour time) inilah ia menghasilkan Rp. 1000,- yang diberikan  secara cuma-cuma kepada kapitalis.
-          JADI, kapitalisme mendapat keuntungan dari surplus waktu kerja buruh yang sengaja tidak dibayar atau dicuri. Marx menyebutnya penghisapan atas kerja buruh demi keuntungan  pemilik modal.
Teori ini kerap disebut sebagai teori nilai surplus.  Marx di atas telah menyatakan bahwa kapitalis dan pemilik tanah adalah pihak yang sengaja mengeksploitasi   pekerja. Jika semua nilai adalah produk dari tenaga kerja, maka semua profit yang diterima oleh kapitalis dan pemilik tanah pastilah merupakan “nilai surplus”, yang diambil secara tidak adil dari pendapatan kelas pekerja. Marx lalu mengembangkan rumus matematika untuk teori nilai surplusnya ini. Tingkat profit (p) atau ekspolitasi adalah sama dengan nilai surplus (s) dibagi dengan nilai produk akhir (r). Jadi
p = s/r
Misalnya, andaikan pabrik pakaian mempekerjakan buruh untuk membuat baju. Kapitalis menjual baju seharga $ 100 satu buah, tetapi ongkos tenaga kerja adalah $ 70 per baju. Maka nilai surplusnya adalah $ 30. Karena itu tingkat profit atau eksploitasinya adalah:
P= 4 30/100 = 0,03 atau 30 %
Marx membagi nilai produk akhir menjadi dua buahbentuk capital (modal), yakni capital konstan © dan capital variable (V). Kapital konstan merepresentasikan pabrik dan peralatan. Kapital variable adalah biaya tenaga kerja. Jadi persamaan untuk tingkat profit menjadi:
P= s/(v+c)
Marx berpendapat bahwa profit dan eksploitasi dapat dinaikkan dengan memperpanjang hari kerja dan memperkerjakan perempuan dan anak-anakn dengan upah lebih rendah daripada buruh lelaki. Lebih jauh , mesin dan kemajuan teknologi hanya menguntungkan kapitalis, bukan buruhnya. Misalnya kemudahan bekerja dengan mesin akan membuat digunakannya buruh wanita dan anak-anak yang dapat dibayar dengan harga murah.

Sebagai refleksi dapat kita katakana, pada setiap barang  yang kita kenakan terdapat keringat buruh yang terhisap. Untuk itu mari kita baca tulisan Horkheimer berikut ini:
                “Siapa mengeluh tentang penderitaan? Kau dan aku? Kitalah pemakan daging manusia, yang sambat dagingnya tidak lezat dan membukin perut kita mulas tidak puas. Tidak, tidak, malah lebih jahanam lagi: kau bergelimang dalam ketenteraman dan kelimpahan, dan ini harus dibayar oleh sesame yang mati lemas, berdarah serta keroncongan perutnya, sementara itu kita hanya merenung tentang nasib yang menimpa orang-orang seperti Katherina Krammer [buruh wanita yang tak bisa bekerja karena ayan, Bq]. Kau berguling di kasur empuk, kau  berbusana indah. NAmun kau tidak tahu berapa banyak buruh wanita jatuh dalam proses produksi buat kasur dan busanamu. Sesama kita hangus karena gas racun sehingga bapakmu dapat mengeruk uang untuk mengongkosi tirahmu. Dan kau sendiri berang-berang marah jika kau tidak bisa santai dengan Dostoyevski dua halaman sehari. Kitalah si buas, namun kita kurang disiksa. Kita memang konyol. Kita bagaikan tukang bantai di pejagalan binatang, yang menggerutu bahwa lap putih penutup badan kita kecipratan darah”. ( Zoltan Tar The Frankfurt School, The Critical Theories of Max  Horkheimer and Theodor W. Adorno 1977: 10).

Teori tentang Krisis Ekonomi
Dalam usaha kapitalis memperluas kuasanya atas pasar, kapitalis biasanya akan menurunkan harga. Namun untuk mempertahankan untung sebagaimana sebelumnya, mau tidak mau produksi harus diperluas, sebab untung yang didapat dari masing-masing barang berkurang maka jumlah satuan harus diperlbesar. Akibatnya, produksi melampaui daya tamping pasar. Terjadilah krisis produksi, si kapitalis terpaksa tidak bisa menjual produksinya lagi, maka ia mengurangi produksinya.
Tindakan pengurangan produksi ini mau tak mau harus dibarengi dengan pengurangan buruh-buruhnya. Orang banyak yang menganggur lagu, akibatnya daya beli pasar makin berkurang lagi. Meski daya beli sangay menurun, si kapitalis yang masih ada harus tetap memperbesar produksinya untuk mempertahankan profitnya meski menjualnya dengan harga murah. Krisis produksi makin menjadi-jadi.
Nampaklah bahwa bentuk produksi kapitalis telah menjadi belenggu yang menahan laju produksi. Belenggu yang kemudian menjadi peletup revolusi.

Teori Nilai Tukar
Kapitalisme  berjalan berdasar nilai tukar. Kapitalisme menganggap semua barang sebagai komoditi, artinya barang bernilai hanya sejauh ia mempunyai nilai tukar dan dapat ditukarkan dalam tindakan tukar-menukar. Ukuran untuk menentukan nilai suatu komoditi, bukan lagi kekhasan kerja manusiawi di dalamnya melainkan jumlah waktu yang dibutuhkan.
Sebelum memahami nilai tukar, kita perbandingkan dulu dengan nilai pakai. Nilai  pakai adalah  nilai yang khas pada sesuatu benda, yang tak bisa ditukar begitu saja. Masing-masing benda mempunyai guna (tingkat keterpakaian) sendiri-sendiri. 
Memandang suatu meja yang terbuat dari kayu dari segi nilai pakai, kita akan mengatakan bahwa meja itu tetap meja. Meja itu berbeda dengan taplak misalnya karena memiliki nilai pakai yang khas pada dirinya masing-masing. Namun dalam perspektif nilai tukar, meja itu bukanlah meja lagi melainkan bisa dianggap sama dengan taplak. Sebab  kerja manusiawi tidak diukur pada dirinya sendiri, melainkan diukur oleh ukuran yang sama, yakni waktu yang dicurahkan untuk mengerjakan sesuatu.
Dalam istilah Marx, waktu yang dibutuhkan untuk menentukan hasil suatu pekerjaan bukanlah waktu individual melainkan “waktu kerja sosial yang perlu” untuk  pekerjaan tersebut. Misalnya si A tidak bisa menjual barangnya seharga Rp. 100,0 meski ia yakin bahwa waktu kerja yang diluangkannya untuk barang itu senilai dengan Rp. 100,- Harga barang si A itu bisa saja turun menjadi Rp. 50,- karena menurut patokan umum yang berlaku biasanya untuk membuat barang yang serupa dengan barang si A hanya dibutuhkan waktu yang senilai dengan Rp. 50,-. Jadi “waktu kerja sosial yang perlu” adalah waktu rata-rata yang diperlukan dalam suatu masyarakat, dengan kepandaian tertentu untuk membuat barang yang tertentu pula.
Di sini terlihatlah unsur ketakdilan kapitalisme. Yakni pada saat menentukan nilai tukar tidak berdasarkan jumlah waktu kerja de facto yang dibutuhkan individu dalam membuat suatu barang, melainkan oleh waktu kerja berdasarkan tingkat teknologi suatu masyarakat yang rata-rata diperlukan untuk membuang barang yang sama. Lebih dari itu, menurut Marx, yang diukur dengan nilai tukar tidak hanya barang melainkan juga tenaga kerja manusia. Nilai tenaga kerja adalah nilai atau harga makanan, tempat tinggal dan kebutuhan hodup lainnya dari buruh sendiri (beserta keluarganya) diukur dari tingkat sosial dan cultural masyarakat tertentu.
               
Teori Nexus Uang
Ide lain dari Marx yang berguna bagi ekonomi terdapat pada Bab 3 buku Capital. Pada bab itu ia mengawali dengan diskusi mengenai barter antara dua comodiyas, C dan C’. Pertukaran itu terjadi sebagai berikut:
C—C’
Ketika uang diperkenalkan, hubungannya berubah menjadi:
C-M-C’
Di sini uang merepresentasikan medium pertukaran anatra dua komoditas. Normalnya, dalam proses produksi dari bahan baku menjadi produk akhir, uang dipertukarkan beberapa kali. Fokus dari system kapitalis adalah pada produksi barang dan jasa yang bermanfaat, dan uang hany a sebagai medium pertukaran –cara untuk mencapai tujuan.
Tetapi Marx menunjukkan bahwa sangat mudah bagi kapitalis uang untuk memulai memandang dunia secara berbeda and lebih sempit, hanya dari sudut pandang “mencari uang” ketimbang “memanfaatkan barang dan jasa”.  Marx merepresentasikan cara berpikir bisnis baru ini sebagai berikut:
M-C-M’
Dengan kata lain, pengusaha menggunakan uang untuk menghasilkan komoditas C, yang pada gilirannya dijual untuk mendapatkan lebih banyak uang M’. Dengan memfokuskan pada uyang sebagai awal dan akhir aktivitas mereka, maka sangat mudah untuk kehilangan dasar tujuan aktivitas ekonomi (menghasilkan dan mempertukarakan barang). Tujuannya bukan lagi C, tetapi M.
Terakhir, system pasar maju selangkah lebih jauh untuk menunjukkan di mana komoditas  (barang dan jasa) tidak ada sama sekali. Proses pertukarannya menjadi
M—M’
Tahap akhir ini mencerminkan pasar capital atau financial, seperti pasar uang dan sekuraitas (Saham dan obligasi). Kini, mudah bagi kapitalisme komoditas untuk menjadi kapitalisme financial murni, yang tercerabut dari akar produksi komoditas. Dalam lingkungan ini, orang-orang bisnis sering kali melupakan tujuan system ekonomi (memproduksi barang dan jasa) dan berkonsentrasi hanya pada “mendapatkan uang”, entah itu melalui judi, teknik perdagangan jangka pendek, atau sekadar mendapat uang dari bunga bang (T-bills). Tujuan dari pencarian uang peling baik dicapai dengan menyediakan barang dan  jasa yang berguna.
Di sini kita bisa melihat bagaimana kultur kapitallis dapat menghilangkan tujuan dasar ekonomi dan rasa kebersamaan (sense of community). Tendensi untuk menjauh dari tujuan aktivitas ekonomi merupakan tantangan bagi para pengusaha, inverstor, dan warga Negara untuk kembali ke tujuan dasarnya.
Khatimah
                Bila Anda bertemu dengan Marx pada saat empat tahun pertama di London, saat ia pertama kali akan memulai tulisannya mengenai Das capital, Anda akan menemukan gambaran dari PAdover (1978: 291-293) ini:
Marx tingginya sedang, 34 tahun; meski relative muda, rambutnya sudah beruban; sosoknya tampak kuat… matanya yang besar dan tajam seperti mengandung kekuatan jahat. Pada pandangan sekilas kita bisa melihat dia adalah lelaki yang jenius dan penuh semangat.
Kehidupan pribadinya tidak teratur, sinis, miskin; dia benar-benar seperti seorang gypsi. Dia jarang mandi, merawat diri, berganti pakaian; dia sering mabuk. Dia sering bermalas-malasan seharian, tetapi jika dia ada pekerjaan dia akan bekerja sehari-semalam… bahkan dia sering bergadang semalaman.
Marx tinggal di tempat paling buruk dan termurah di London… perabotannya rusak, kotor dan acak-acakan; segala sesuatu diselimuti debu tebal; semuanya berantakan. SAat orang masuk ke kamar Marx, mata akan terasa perih oleh asap batu bara dan tembakau sehingga begitu masuk dia harus meraba-raba dulu… semuanya kotor penuh debu… tetapi semua tidak membuat Marx dan istrinya merasa malu.
Kesaksian ini ditulis pada tahun 1853, ia mendapat warisan dari keluarga istrinya dan mendapat sumbangan dari Engels (sahabatnya). Saat itu dia mengadu nasib di pasar saham, berspekulasi pada saham Amerika dan Inggris dan mendapat keuntungan yang cukup. Ia pun menulis pada Engels pada tahun 1964, “Sudah tiba saatnya ketika dengan kecerdasan dan sedikit uang orang bisa mengeruk keuntungan besar di London”.
Marx menulis buku Capital pada umurnya yang ke-49.  Setelah itu, 1860-an, dia menerima hadiah natal sebuah patung Dewa Zeus yang sangat besar. Patung ini disimpan di ruang baca, dan sejak saat itu ia  mengagumi wajah Zeus yang penuh dengan janggot dan kumis. Maka ia pun berhenti mencukur rambut dan membuarkan jenggotnya tumbuh sampai berbentuk seperti Zeus. Dia menggambarkan dirinya sebagai dewa semesta, yang melemparkan petir ke bumi, seperti salah satu surat Marx pada Jenny, istrinya, “ Jenny, jika kita bisa menyatukan jiwa kita maka akan kulemparkan sarung tanganku ke wajah dunia, lalu aku akan melangkah di atas rongsokan itu sebagai pencipta!
Narx meninggal pada 17 Maert 1883 dalam keadaan duduk di kursinya. Tak ada surat wasiat selain karyanya yang jumawa. Ia juga pernah menulis naskah drama pada tahun 1839 Qulanem, pada karya itu kita mungkin bisa mengenang pemikirannya yang unik:
Hancur-hancur! Waktuku telah berlalu
Jam telah berhenti, rumah orang kerdul telah hancur
Tak lama lagi aku akan memeluk kebadian, dan
Tak lama lagi aku akan mengutuk keras umat manusia
….
….
Dan dunia menyeret kita berputar-putar
Menyanikan lagu kematian, dan kita—
Kita adalah kera dari Tuhan yang dingin


0 komentar:

Posting Komentar